Jakarta (18/09) - Sejarah mencatat di dunia pernah 4 kali terjadi pandemi Influenza yaitu Spanish Flu tahun1918, Asean Flu tahun 1957, Hongkong Flu tahun 1968, dan Swine Flu tahun 2009. Walaupun kejadian ini jarang namun cenderung berulang, untuk itulah perlu upaya kesiapsiagaan menghadapi kemungkinan terjadinya pandemi influenza. Indonesia belajar dari pengalaman panjang menangani influenza sejak penyebaran dan penularan flu burung sejak awal tahun 2000. Penanganannya memerlukan kerjasama antar sektor dan disiplin yang baik.
Simulasi Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza juga perlu dilaksanakan, karena penyebaran dan penularan flu burung atau avian influenza pada unggas masih sering terjadi di Indonesia dan mempunyai potensi menular pada manusia. “Indonesia adalah wilayah endemis Influenza H5N1, oleh karena itu Indonesia berisiko menjadi episenter suatu pandemi influenza,” demikian dikatakan Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan, Kemenko PMK, Sigit Priohutomo dalam talkshow ‘Ruang Publik Kita” di Studio TVRI Jakarta.
Dalam talkshow berdurasi 60 menit yang mengambil tema “Kesiapsiagaan Indonesia Dalam Menghadapi Pandemi Influenza” itu Sigit menjelaskan bahwa pemerintah akan menggelar Simulasi Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza di Provinsi Banten. Kegiatan yang dilakukan terkait simulasi ini terdiri dari: persiapan (training dan rapat koordinasi), surveilans/investigasi, mobilisasi logistik (antiviral, alkes, dll.), respons medis (isolasi dan aktivasi kedaruratan), skrining kesehatan, pengamanan fasilitas publik, pengawasan di bandara dan pelabuhan, komunikasi risiko, dan lainnya.
Adapun Simulasi yang dilaksanakan pada tanggal 19-20 September 2017 itu akan menggambarkan respon episenter pandemi influenza di daerah Pedesaan dan perkotaan dalam framework kebencanaan nasional. Simulasi tersebut akan dilaksanakan di 4 lokasi utama yaitu, Kota Tangerang Selatan (Puskesmas Setu, Kelurahan Setu, Kawasan Puspitek, Pasar Modern BSD, RS Eka, BATAN), RSUD Kota Tangerang, Bandara Soekarno hatta dan Pelabuhan Merak Banten.
Sementara itu, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung, Kemenkes, Wiendra Waworuntu mengatakan, semua pihak terkait di tingkat kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi dan pusat, semua fasilitas pelayanan kesehatan, semua faktor pendukung seperti Badan penanggulngan Bencana Nasional (BNPB), Kementerian Koordinator pembangunan manusia dan kebudayaan, TNI, Kementerian Sosial, Polri, Kementerian Koordinator Politik Hukum dan Ketahanan Negara, Kementerian Pertanian, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Komunikasi dan Informasi, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, perangkat pemerintah daerah, masyarakat lokal kelurahan Setu, PMI, BATAN, ORARI, WHO akan terlibat dalam kegiatan tersebut. PS
Kategori: