Jakarta (12/12) -- Asisten Deputi (Asdep) Pemberdayaan Kawasan Perdesaan Kemenko PMK, Awal Subandar memimpin rapat koordinasi (Rakor) tentang Pemberdayaan Kawasan Perdesaan pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Citarum. Rakor diselenggarakan di ruang rapat Kemenko PMK lt. 6, Rabu pagi (12/12). Turut hadir dalam rakor kali ini perwakilan dari Kemenko Maritim, Kemenhut LH, Bappeda Kab. Bandung Barat, Perhutani, PTPN VIII dan mitra strategis lainnya.
Mengawali arahannya, Awal menyampaikan bahwa rapat kali ini merupakan kelanjutan dari rapat-rapat sebelumnya yang membahas persoalan DAS Citarum. Adapun narasi besar dalam penatan dan penanganan DAS Citarum ada di tangan Gubernur Jawa Barat sebagai leader pelaksana dan Menko Maritim sebagai Ketua Tim Pengarah.
"Sebagaimana diketahui bersama, Citarum merupakan sungai yang mengaliri beberapa daerah di Provinsi Jawa Barat. Ia juga menjadi pemasok air minum bagi warga Jakarta. Namun, dari hasil kunjungan lapangan Tim Kemenko PMK pada September lalu, ada beberapa masalah yang teridentifikasi, antara lain kesehatan masyarakat, banjir, penurunan ketersediaan air, peningkatan sedimentasi, pendangkalan sungai, penurunan kesuburan tanah hingga masalah sampah," jelas Awal.
"Tujuan Rakor kali ini adalah untuk melaksanakan Koordinasi, Sinkronisasi dan Pengendalian (KSP) pelestarian wilayah Hulu DAS Citarum dengan pendekatan Pemberdayaan Kawasan Perdesaan Berbasis Kearifan Lokal (budaya lokal) yang memberikan dampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat terdampak dan sekitar," terang Awal.
Menurut Awal, Pembangunan kawasan perdesaan merupakan salah satu pendekatan yang diprioritaskan untuk pengembangan potensi unggulan kawasan perdesaan dan pemecahan masalah. Perpaduan pembangunan antardesa dalam 1 kabupaten/kota bertujuan untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan dan pembangunan serta pemberdayaan untuk mempercepat peningkatan kapasitas masyarakat.
Salah satu solusi alternatif penanganan DAS Citarum, menurut Awal adalah pengembangan komoditas unggulan kawasan perdesaan. Dan salah satu komoditas yang paling tepat adalah pengembangan dan penanaman bambu. Bambu, selain dapat memperbaiki kondisi lingkungan hulu DAS Citarum yang rusak juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk yang ada di kawasan tersebut.
Dalam melaksanakan pemberdayaan masyarakat dan pembangunan kawasan perdesaan di DAS Citarum, telah siap kolaborasi dari iGrow, Biosphere dan AfterOil sebagai mitra. iGrow.asia perusahaan startup Fintech Pertanian; Biosphere.id startup eco-crowdfunding; AfterOil.id startup distributed renewable energy. Perusahaan ini merupakan binaan dari Indonesia Start-up Center, dimana iGrow tahun 2017 berhasil meraih penghargaan World Summit on the Information Society (WSIS) Prize 2017 dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) – International Telecommunication Union (ITU). WSIS Prize merupakan penghargaan PBB bagi inisiatif TIK dalam mendukung akselerasi pembangunan dan kemajuan sosial-ekonomi, khususnya perwujudan Agenda Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).
Melalui penanaman Bambu diharapkan akan mampu menjadi solusi di hulunya, sedangkan independent energy producer dapat menjadi salah satu solusi di hilirnya, untuk menghasilkan energi terbarukan dari biomassa apapun (bambu, dll) termasuk sampah.
"Sasaran Rakor kita hari ini adalah menentukan lokasi fokus pengangan DAS Citarum basis komoditas (bambu) dan pembangunan kawasan perdesaan. Menentukan target waktu pengembangan kawasan perdesan DAS Citarum serta rencana kerjasama pihak-pihak terkait," ungkap Awal
Kategori:
