Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humas on February 26, 2020

Foto : 

  • Novrizaldi

Jakarta (26/2) -- Bangsa Indonesia saat ini tengah bersiap menerima bonus demografi. Hal tersebut ditandai dengan meningkatnya proporsi penduduk usia kerja. Diperkirakan, pada tahun 2045 akan ada sebanyak 70 persen dari total jumlah penduduk Indonesia berusia produktif (15-64 tahun), sisanya sebanyak 30 persen adalah penduduk usia tidak produktif.

Namun, bonus demografi yang akan dihadapi Indonesia masih menyimpan masalah. Mulai dari masalah stunting, gizi buruk yang masih menjadi ancaman utama bagi anak-anak di berbagai belahan Indoneisa. Anak-anak dan remaja yang berusia belia pun tersembunyi potensi penyakit yang kelak dapat mengganggu usia produktifnya.

Merujuk Riset Kesehatan dasar (Riskesdas), untuk tahun tahun 2018 menunjukkan peningkatan prevalensi penyakit tidak menular dibandingkan riskesdas tahun 2013. Prevalensi diabetes mellitus mengalami peningkatan dari 6.9 persen menjadi 8.5 persen. Tidak hanya itu, tingkat obesitas pada anak-anak dan remaja juga meningkat signifikan

Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Suprapto mengatakan dalam menghadapi bonus demografi ini pemerintah khususnya Kemenko PMK berfokus untuk meningkatkan keunggulan dan kualitas SDM indonesia. Kunci untuk menciptakan SDM Unggul di Indonesia, kata Agus, adalah dimulai dari kesehatan.

“Untuk meraih bonus demografi yang positif kita harus memelihara kesehatan keturunan kita sejak awal. Sejak awal perkawinan, sejak hamil, saat usia sekolah, semua itu penting dilakukan,” ujar Agus saat menjadi pembicara kunci dalam ‘Seminar Peluang dan Tantangan di bidang Kesehatan dalam Meraih Bonus Demografi 2045’ yang dihelat oleh Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia dan PP Aisyiah di Gedung A Kantor Kemndikbud Jakarta, Rabu (26/2).

Pola hidup sehat menurut Agus juga bisa menjadi kunci mencegah stunting pada kelahiran anak-anak. Dengan menerapkan pola hidup sehat seperti menjaga gizi makanan menurut Agus akan dapat mencegah terjadinya stunting pada anak-anak. Pencegahan stunting pada kelahiran anak akan mampu mewujudkan manusia Indonesia yang produktif.

“Kalau kita bisa mencetak manusia Indonesia yang tidak stunting, sehat, pintar, iq bagus, imannya bagus, dan lainnya harapannya adalah nanti manusia Indonesia itu menjadi produktif,” tuturnya.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) saa ini jumlah penduduk yang kerja di Indonesia sebanyak 127 juta jiwa. Dari 127 juta, sebanyak 9 juta jiwa tak memiliki pekerjaaan alias pengangguran. Angka tersebut masih sangat besar.

Agus berharap bonus demografi yang akan didapat Indonesia pada 2045 mendatang akan menghasilkan manusia yang produktif dan menekan angka pengangguran di atas. Produktif yang dimaksud Agus adalah bisa memiliki penghasilan untuk diri sendiri, untuk keluarganya, dan sisa penghasilannya bisa menjadi investasi nasional untuk pembangunan maanusia kedepan.

“Kalau bisa generasi berikutnya lebih kaya daripada kita. Kalau generasi kita makin kaya maka harapannya bekerja sedikit saja hasilnya luar biasa maka penghasilannya luar biasa. Kalau kekayaannya baik maka nanti dia bisa memberikan gizi yang lebih baik untuk anak-anaknya. Maka kalau itu bisa terwujud indonesia akan mencapai bonus demografi yang positif,” tandas Agus.

Kategori: 

Reporter: 

  • Novrizaldi