Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on November 13, 2018

Bali (13/11)--Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Kemenko PMK menyelenggarakan Rapat Koordinasi Peran Pendidik dalam Implementasi Pendidikan Karakter di Era Disrupsi Teknologi. Rakor ini dimulai dengan sambutan dari Deputi Bidang Koordinasi Pendidikan dan Agama, Agus Sartono dan dibuka secara resmi oleh Gubernur Provinsi Bali,  I Wayan Koster.  Turut menjadi narasumber, yakni Staf Ahli Mendikbud bidang Pembangunan Karakter,  Arie Budhiman,  Kepala Dinas
Pendidikan Provinsi Bali,  TIA Kusuma Wardhani,  Rektor IKIP PGRI Bali, I Made Suarta,  Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, I Nyoman Lastra,  Kepala Dinas Kabupaten Badung, I Ketut Widia Astika, dan Kepala Dinas Kota Denpasar, I Wayan Gunawan. Peserta dalam rakor ini,  yakni Dosen,  Kepala Sekolah,  Guru,  Tutor,  dan Mahasiswa.

“Karakter merupakan cerminan kepribadian secara utuh dari seseorang yang mencakup mentalitas, sikap dan perilaku. Karakter tidak hanya berkaitan dengan moral seperti jujur, sopan,  hormat ke orang tua tetapi juga berkaitan dengan kinerja seperti kerja keras, disiplin, bertanggungjawab, kerja tuntas, tak mudah menyerah, kreatif, berjiwa pemimpin, bersikap mandiri, dan sebagainya,” Demikian Prof. Agus mengawali arahannya.  

Kekuatan karakter, menurut Prof. Agus merupakan hal yang sangat penting dalam membangun suatu bangsa. Bahkan Bung Karno pernah berucap bahwa “kesejahteraan suatu bangsa ditentukan oleh karakter warga negaranya”. Jelas, bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang memiliki karakter kuat. Lihatlah bagaimana Jepang dan Korea Selatan berhasil bangkit dari kehancuran akibat perang. Mereka dapat memenangkan persaingan dunia karena memiliki karakter dan jatidiri yang kuat. Karakter yang kuat itu dibentuk melalui proses pendidikan masyarakatnya.

Pembentukan karakter, lanjut Prof. Agus dilakukan melalui proses pendidikan. Seperti yang dikatakan oleh filsuf Inggris “Education has for its object the formation of character”, obyek dan tujuan pendidikan pada dasarnya adalah untuk membentuk karakter. Pendidikan karakter diarahkan untuk memberikan penguatan pada nilai-nilai tertentu yang sesuai dengan budaya dan kinerja yang menjadi harapan bangsa Indonesia.

“Saat ini yang perlu diwaspadai bagi pembentukan karakter adalah globalisasi yang membuat semakin gencarnya penetrasi budaya asing yang tidak sesuai dengan karakter bangsa. Ditambah era disruption teknologi  dimana peran media dan teknologi komunikasi berpotensi menjadi ancaman bagi pembentukan karakter,” kata Prof. Agus. 

Telepon pintar (red.smartphome) adalah contoh disruption teknologi yang mudah dipahami. Telepon, lanjut Prof. Agus dahulu hanya berfungsi sebagai alat komunikasi dan hanya dimiliki orang-orang tertentu saja. Namun saat ini, telepon dapat dimilik oleh siapa saja, termasuk anak usia didik serta memilik fungsi yang beragam seperti media informasi, hiburan, pendidikan, dan sebagainya. “Hal inilah yang dimaksud pontensi ancaman bagi pembentukan karakter, karena mudahnya informasi yang didapat melalui telepon,” ujarnya.

Untuk itu, menurut Prof. Agus harus ada upaya untuk menyaring budaya asing yang tidak sesuai dengan budaya dan karakter bangsa. Sarana yang efektif dalam upaya menyaring atau mencegah adalah melalui penguatan pendidikan karakter, tidak hanya di lingkungan sekolah, tapi juga mencakup di keluarga dan lingkungan masyarakat. 

Menurut Prof. Agus, berbicara tentang pendidikan tidak hanya fokus kepada aspek kongnitif, tetapi juga aspek afektif juga sangat penting. Kita melihat bagaimana masyarakat Bali sejak kecil terbiasa melestarikan seni,  baik lukis, pahat, maupun tari sehingga Kearifan lokal masih tetap terjaga. Masyarakat Bali juga dikenal ulet, memiliki etos kerja tinggi, dan jujur karena masyarakat Bali yakin akan hukum karma-pahala. 

Masyarakat bali juga dikenal tulus/ikhlas dalam bekerja, pantang menyerah serta pembelajar yang baik. Contohnya pemahat ukir-ukiran yang  sejak dahulu belajar otodidak. Sehingga kreatif serta inovatif sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat.  “Inilah salah satu alasan saya memilih Bali sebagai tempat dilaksanakannya rakor ini. Dan alasan yang paling kuat karena Bali sangat unik serta memiliki karakter kuat,” terangnya.

Menurut Prof. Agus pendidikan adalah jalur yang paling efektif dalam mewujudkan gerakan revolusi mental. Pendidikan memang merupakan suatu proses rekayasa sosial pembudayaan yang tujuan utamanya untuk membentuk karakter. “Kita harus melihat pendidikan dalam arti luas yang mencakup pendidikan formal di sekolah, non formal dan informal di masyarakat,” tambahnya.

Terkait dengan peran penting pendidikan, menurut Prof. Agus faktor yang perlu ditingkatkan kualitasnya adalah “guru”. Sosok guru akan menjadi role model dan sangat berpengaruh dalam rekayasa sosial pembudayaan tersebut. 

Sejalan dengan Prof. Agus, Gubernur Bali, I Wayan Koster dalam sambutannya menekankan pentingnya peran guru dalam gerakan revolusi mental dan pembentukan karakter anak. Gubernur juga menyampaikan akan pentingnya peran Banjar. Kedepan, setiap Banjar di Bali akan ditempatkan seorang pendamping. “Akan diaktifkan kegiatan semacam story telling, karena dengan kegiatan tersebut, anak-anak mendapatkan pitutur/nasehat mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, mana yg elok dan baik dan mana yangg tidak baik dan tidak elok," tambahnya.

Mengakhiri sambutannya, Gubernur Bali menyampaikan apresiasi dipilihnya Bali sebagai tempat pelaksanaa rakor.  Hal ini juga bertepatan karena saat ini Bali sedang menyusun strategi pembangunan sumberdaya manusia yang sejalan dengan fokus pemerintah. “Oleh sebab itu saya sangat menaruh pehatian yang tinggi terhadap pengembangan SDM,” ujarnya. (DAM) 

Kategori: