Jakarta (23/02) - Usai sesi diskusi bertajuk 'Gathering Positif Bermedia Sosial' yang digelar oleh Sekretariat Revolusi Mental, Kemenko PMK, peserta yang terdiri dari netizen, blogger, Pramuka, admin sosial media K/L, Persatuan Paskibraka Indonesia berkesempatan mencoba MRT Jakarta. Kemenko PMK ingin mengajak seluruh warga net untuk menyebarkan kabar positif tentang Indonesia.
"Banyak capaian pembangunan yang dapat dikabarkan, baik melalui media mainstream maupun media sosial. Capaian tersebut juga merupakan implementasi 5 nilai gerakan Revolusi Mental : Indonesia Melayani, Indonesia Tertib, Indonesia Mandiri, Indonesia Bersih dan Indonesia Bersatu", jelas Nyoman Shuida, Deputi Bidang Koordinasi Kebudayaan Kemenko PMK saat mencoba MRT Jakarta.
Dalam sesi kunjungan ke MRT Jakarta itu, peserta mendapat kesempatan khusus mencoba MRT dimulai dari Stasiun Bundaran HI hingga ke Stasiun Lebak Bulus dengan waktu perjalanan sekitar 30 menit. Sebelum memasuki area stasiun, petugas MRT memberikan penjelasan mengenai tata cara penggunaan MRT dan fasilitasnya, termasuk hal-hal yang tak diperbolehkan selama berada di dalam area peron dan gerbong, seperti makan dan minum.
"Tidak makan dan minum dalam gerbong, antri, memberi tempat duduk prioritas dll itu juga implementasi gerakan Revolusi Mental. Hal-hal baik itulah yang diharapkan dikabarkan oleh netizen yang kami ajak untuk mencoba MRT", harap Alfredo, Asisten Deputi urusan Kepemudaan Kemenko PMK.
Pembangunan MRT Jakarta yang menelan biaya sekitar Rp. 16 Triliun ini dimulai sejak 1 Oktober 2013 dan rencananya akan beroperasi secara resmi pada Maret 2019, mulai pukul 05.00 - 24.00. Tak kurang dari 10 ribu pekerja terlibat dalam pembangunannya. Fase I pembangunan MRT Jakarta membentang sepanjang 16 KM dari Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia, terdiri dari jalur layang dan bawah tanah dengan lebar rel 1067 MM. Terdapat 13 stasiun yaitu 7 stasiun layang, 6 stasiun bawah tanah yang didesain sesuai dengan lokasi setiap stasiun. MRT Jakarta diberi nama RATANGGA diambil dari bahasa jawa kuno yang berarti Kereta Perang. Dalam 1 train set terdapat 6 kereta dengan panjang sekitar 118 Meter yang mampu menampung sekitar 1.900 penumpang dalam sekali keberangkatan. Jumlah penumpang per gerbong sekitar 250-300 orang, dengan alokasi tempat duduk sebanyak 50 tempat duduk. Jadi rata-rata per hari 130.000 penumpang. Ratangga beroperasi dengan kendali otomatis dengan kecepatan maksimum 100KM di jalur layang dan 80KM di jalur bawah tanah. Rentang tunggu Ratangga sekitar 5-10 menit per rangkaian kereta.
Kategori:
