Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on September 27, 2014

Jakarta, 27 September  – Kabut asap di Samarinda sudah mulai mengganggu jarak pandang. Berdasarkan data Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Samarinda, saat ini jarak pandang berkisar 7 sampai 10 km.

Kepala BMKG Samarinda, Sutrisno seperti dilansir laman Tribun News.com., menyebut, kabut asap baru dikategorikan mengganggu ketika jarak pandang tersisa kurang dari 5 km.

“Memang sekarang sudah mulai mengganggu jarak pandang. Tapi belum signifikan. Normalnya di Samarinda ini, jarak pandang itu sekitar 10 km lebih,” ungkap Sutrisno, Jumat (26/9/2014).

Dari alat pengukur kepekatan asap yang dimiliki BMKG Samarinda tercatat konsentrasi asap mencapai 35,325 mikro gram per meter kubik.

“Alat PM 10 (pemantau asap) mengukur demikian. Kabut asap masih tipis. Ini mendung karena akan turun hujan,” ujar Sutrisno, Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, titik api terbanyak di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah. Beruntung, angin bertiup dari arah Tenggara menuju Timur laut, sehingga asap dari kedua provinsi tersebut berbelok menjauhi Kaltim.

“Angin dari Tenggara menuju ke tengah Pulau Kalimantan. Jadi asapnya berbelok dari Kaltim,” tuturnya.

Kabut Asap, Jam Masuk Sekolah di Palembang Mundur ke 07.30

Sementara itu, makin tebalnya kabut asap di Kota Palembang membuat Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Palembang mengeluarkan surat edaran kepada sekolah yang berisikan imbauan agar jam masuk sekolah dimundurkan.

Kepala Disdikpora (Kadisdikpora) Kota Palembang Ahmad Zulinto mengatakan pihaknya telah mengadakan rapat dengan seluruh kepala UPTD terkait mengenai kabut asap yang tengah melanda Palembang beberapa minggu terakhir.

"Kami membuat surat edaran hari ini bahwa terkait kabut asap yang terjadi dengan mencapai suatu keputusan jam belajar mengajar diundur sampai pukul 07.30," jelasnya kepada Sripoku.com, Jumat (26/9/2014).

Surat ederan tersebut berlaku bagi setiap sekolah di Kota Palembang. Setiap harinya jam belajar mengajar pada satu mata pelajaran dikurangi lima menit.

"Untuk sekolah yang masuk siang hari masuk seperti biasa dan pulang lebih awal yakni pukul 16.30. Sedangkan jam pelajaran sekolah siang hari dikurangi 10 menit," katanya.

"Surat edaran tersebut diberlakukan selama kabut asap masih menyelimuti Kota Palembang. Apabila kabut asap tidak ada lagi otomatis surat edaran tersebut tidak berlaku lagi," ujarnya.

Sebelumnya, Zulinto melakukan survei secara langsung di beberapa di Kota Palembang ternyata kondisi sudah sangat mengkhawatirkan. Bahkan di dalam kelas yang sudah memakai pendingin ruangan kabut asap tetap memasuki ruangan kelas.

"Karena kondisi udara yang memburuk kami mengimbau kepada siswa untuk menggunakan masker karena udara semakin buruk sehingga kesehatan menjadi hal utama," tutupnya.

Kebakaran Lereng Merbabu Mengintai Pemukiman Penduduk

Sedangkan kawasan hutan di lereng Gunung Merbabu dilaporkan terbakar hebat, Jumat (26/9/2014) petang.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, beberapa titik api sebenarnya sudah terdeteksi sejak tiga hari lalu yang terlihat dari kawasan Pos II Pendakian Gunung Merbabu, tepatnya di atas Pereng Putih atau di sekitar sumber air Singo Sowo.

"Sekitar 17.30 WIB kami sudah menarik kawan-kawan relawan dan warga sekitar yang berusaha memadamkan api sejak siang hari, karena kondisinya sudah tidak memungkinkan," kata Koordinator SAR Kecamatan Getasan, Kabupaten Semarang, Agus Surolawe saat dihubungi, Jumat (26/9/2014) malam.

Kondisi kebakaran hutan saat ini, ungkap Agus, dalam taraf yang mengkhawatirkan, sebab jarak hutan yang terbakar dengan permukiman warga cukup dekat, yakni sekitar 1,8 kilometer dari Dusun Tekelan, Desa Batur, Kecamatan Getasan.

"Api sebagian besar di lereng dan menjalar ke atas. Akan tetapi kami tetap mengedepankan keselamatan relawan untuk menghindari jatuhnya korban yang terjebak di tengah kepungan api. Tapi kami terus pantau kondisi di lapangan," terangnya.

Adapun vegetasi hutan di lereng Merbabu yang terbakar, jelas Agus, merupakan campuran antara semak yang kering, akasia, dan pinus di area kawasan Balai Taman Nasional Gunung Merbabu (BTNGM). Kepungan api dilaporkan sebentuk lingkaran dan sangat jelas terlihat dari kawasan Wisata Kopeng.

"Ini kebakaran yang paling hebat, karena api belum bisa dikendalikan. Dari bawah terlihat membara berbentuk lingkaran dan terus meluas," tandasnya.(Tn/Gs).