Jakarta, 17 Agustus - Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH. Maksum Machfoedz, menyatakan kemerdekaan Indonesia bermakna sangat khusus bagi NU. Bahkan sejak jauh hari sebelum diproklamirkan.
"Para pendiri NU telah mencanangkan kedaulatan Nusantara (RI) dalam embrio kelembagaan NU, Nahdlatul Wathan, jauh sebelum NU lahir pada 1926," tutur Maksum saat dihubungi ROL, Sabtu (16/8/2014) malam.
Dua belas tahun sebelum NU berdiri, lanjut Maksum, para pendiri NU telah membentuk organisasi "Nahdlatul Wathan" atau wadah perjuangan untuk menegakkan kedaulatan Bangsa Indonesia.
Adapun proklamasi kemerdekaan menjadi sangat khusus karena telah terbangun diatas pundak NU sebagai salah satu pilar pendiri bangsa.
Menurut Maksum, Proklamasi juga sangat penting karena menjadi tonggak diakuinya empat pilar kebangsaan.
Keempat pilar itu ialah bentuk NKRI, Pancasila sebagai dasar falsafah, UUD 1945 sebagai konstitusi dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai lambang wujud persatuan atas keberagaman.
"Selama masa pra kemerdekaan, para pendiri NU telah bertekad menjadikan keempat pilar kebangsaan sebagai harga mati dan tidak bisa ditawar," tegas Maksum.
Tekad ini telah dibuktikan melalui berbagai momentum seperti saat polemik tujuh kata di belakang "Ketuhanan Yang Maha Esa" terjadi.
Saat itu KH. Wahid Hasyim, ayah Gus Dur, mengusulkan tujuh kata itu harus dihapus demi kesatuan dg warga negara di Indonesia Timur.
Momentum lainnya, ungkap Maksum, terjadi ketika agresi Belanda di Indonesia. Saat itu kakek Gus Dur, KH. Hasyim Asy'ari, menyatakan "resolusi jihad".
Resolusi jihad, ungkap Maksum, bermakna wajib angkat senjata bagi muslimin dalam radius 90 km dari surabaya. Akibatnya, terjadi peristiwa 10 November yang sekarag diperingati sebagai Hari Pahlawan
Peristiwa lainnya terjadi ketika beberapa kali terjadi pencederaan terhadap NKRI oleh pihak komunis. Saat itu, NU selalu berada di depan menentang komunisme.
Harus Jadi Penentu Nasib Bangsa
Sementara itu, Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nasir, menyatakan umat Islam harus menjadi penentu nasib bangsa dalam menyongsong 69 Tahun Kemerdekaan Indonesia.
"Umat Islam besar jasanya dalam menentukan berdirinya NKRI. Jadi umat Islam harus menjadi penentu nasib bangsa Indonesia," tutur Haedar saat dihubungi ROL Jumat (16/8/2014) malam.
Menurut Haedar, umat Islam dari seluruh komponen harus bersatu untuk memajukan Indonesia. Warnai Indonesia dengan nilai-nilai Islam dan Pancasila.
Ummat Islam, papar Haedar, harus mewujudkan Indonesia menjadi negeri yang penuh kebaikan dan mendapatkan ampunan dari Allah SWT (Baldatun Thayyibatun Wa Rabbun Ghafur).
Bagi umat Islam, cinta tanah air telah melekat dalam jiwanya sehingga keislaman dan keindonesiaan merupakan alam pikiran yang menyatu dan tidak terpisah.
Selaku penduduk mayoritas, jelas Haedar, ummat Islam juga harus menjadikan Indonesia sebagai rumah sendiri. Jangan sampai ummat Islam merasa asing di negeri sendiri.
Memperingati HUT RI ke 69, lanjut Haedar, harus dilakukan dengan cara lebih subtantif ke arah penghayatan spirit, pemikiran, dan cita-cita nasional 1945.
Cita-cita nasional Indonesia ialah menjadikan Indonesia maju, adil, makmur, bermartabat dan berdaulat. Jadi, tidak berhenti pada seremonial dan sekadar kegiatan kemeriahan.
Haedar menyatakan para penyelenggara negara harus menghayati pengorbanan para pejuang kemerdekaan dengan mengurus negara secara baik dan benar.
"Penyelenggara negara tidak boleh melakukan korupsi dan menyalahgunakan jabatan. Sedangkan warga negara harus hidup cerdas, beradab, dan berkhidmat untuk memajukan Indonesia," papar Haedar.
Haedar menimbau agar warga negara dan para penyelenggara negara menJauhi hidup serakah, menyimpang dan membawa kerusakan bangsa.(Rol/Gs).
Kategori: