Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on September 28, 2017

Jakarta (28/09) – Prevalensi stunting di Indonesia yang mencapai 37,2 persen merupakan masalah yang sangat serius, hal ini jauh di atas batas ambang yang diperkenankan di setiap negara yaitu sebesar 20 persen. Terdapat 15 provinsi melebihi 40 persen, hanya lima provinsi kurang dari 30 persen, dan tidak ada provinsi yang kurang dari 20 persen. Demikian disampaikan oleh Deputi bidang Koordinasi Peningkatan Kesehatan Kemenko PMK, Sigit Priohutomo, yang menjadi salah satu narasumber pada acara Semiloka Barisan Nasional (Barnas) Fatayat NU Cegah Stunting di Hotel Aryaduta, Jakarta.

Menurut sigit, faktor utama tingginya masalah stunting di Indonesia salah satunya adalah buruknya makanan yang dikonsumsi (asupan gizi) mulai saat anak masih dalam kandungan (masa hamil), baru lahir, sampai anak berusia dua tahun. Kurang gizi pada dua tahun pertama kehidupan dapat menyebabkan kerusakan otak yang tidak dapat lagi diperbaiki. Selain itu, Kurang Gizi juga dapat menyebabkan kemiskinan. Untuk itu, investasi gizi pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan hal yang cukup penting dalam pencegahan stunting. “Fokus pada 1000 Hari Pertama Kehidupan, yang dimulai saat kehamilan hingga anak berusia dua tahun, merupakan periode yang sangat penting dalam pencegahan stunting” jelas Sigit.

Tambahnya lagi, Pengetahuan tentang pentingnya gizi pada 1000 HPK dalam pencegahan stunting dirasa masih kurang dimiliki masyarakat. Bisa jadi sebagian besar masyarakat Indonesia belum terpapar informasi ini. Oleh karenanya, menurut sigit, pendekatan multisektor dalam sosialiasi perbaikan pangan dan gizi, mutlak dilakukan. Sigit juga berharap dengan adanya Semiloka Barnas Fatayat NU ini dapat meningkatkan pengetahuan dan pemahaman peserta tentang pentingnya gizi pada 1000 HPK, stunting, faktor penyebabnya, kerugian karena stunting dan cara mencegahnya. Sehingga Kedepannya, Fatayat NU dapat melakukan tugas dengan baik untuk mengkampanyekan pentingnya pencegahan stunting kepada masyarakat.

Semiloka Barisan Nasional (Barnas) Fatayat NU yang dilaksanakan dari tanggal 27-29 September 2017 ini juga menghadirkan narasumber lainnya seperti Ketua DPP Persatuan Ahli gizi, DR. Minarno; LBM-PBNU, Sarmidi Husna; Staf Ahli Bidang Pengembangan Ekonomi Lokal Kemendes PDTT, Ratna Dewi Andriati; dan lainnya. (rhm)

Kategori: