Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on August 13, 2014

Jakarta, 13 Agustus  – Peningkatan kegempaan, suhu air panas dan secara visual teramati letusan yang mengeluarkan semburan serta luncuran lava pijar, maka mulai Selasa (12/8/2014) pukul 10.00 WIB, status Gunung Slamet dinaikan menjadi siaga (level III).

Seperti dilansir laman Tribun News, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho menyebutkan, hingga 1,5 Km ke arah barat daya yang dan disertai suara dentuman dari Gunung Slamet.

Menurutnya, kenaikan status ini ditetapkan oleh PVMBG Badan Geologi, dan telah dilaporkan kepada Kepala BNPB, BPBD Jawa Tengah dan BPBD kabupaten di sekitarnya. Direkomendasikan agar masyarakat, pendaki, dan wisatawan tidak diperkenankan beraktivitas dalam radius 4 km dari kawah.

"Sejak 1-12 Agustus 2014 telah terjadi 478 kali gempa letusan atau 43 kali per hari, 5.070 kali gempa hembusan atau rata-rata 456 kejadian per hari. Suhu di mata air Sicaya juga menunjukkan peningkatan, terukur 61,7 - 62,3 derajat celsius," kata Sutopo dalam keteranganya, Rabu (13/8/2014).

Potensi bahaya erupsi di radius 4 km dari pusat erupsi, menghasilkan material berukuran abu hingga lapili (berukuran 1-4 cm), lontaran batu pijar, dan hujan abu lebat. Sedangkan material abu vulkanik dapat mencapai jarak 10 km atau lebih tergantung pada arah angin. Erupsi yang menghasilkan aliran lava dan awanpanas berpotensi terjadi di radius 4 km.

Kepala BNPB, Syamsul Maarif, telah memerintahkan jajaran BNPB dan BPBD agar menyempurnakan rencana kontinjensi erupsi Gunung Slamet. Beberapa upaya yang sudah dilakukan BPBD Jawa Tengah adalah memerintahkan Kepala BPBD Kab. Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal dan Purbalingga mengumpulkan Camat dan Lurah untuk melakukan koordinasi. Stok logistik dan masker di BPBD Jateng besok pagi akan dikirimkan ke lokasi.

Masyarakat dihimbau tenang dan tidak terpancing isu-isu. Hingga saat ini belum ada pengungsi. Meskipun dalam sejarah letusan G. Slamet belum pernah terjadi erupsi yang besar namun kesiapsiagaan masyarakat dan pemda tetap terus ditingkatkan.

Banjir Terjang Bolmong dan Bolsel.

Sementara itu, Banjir porak-porandakan Bolmong dan Bolsel. Ratusan rumah di sembilan desa dan satu kelurahan Kabupaten Bolmong terendam banjir, Selasa (12/8/2014). Bahkan, tiga rumah di Desa Mengkang, Kecamatan Lolayan, tersapu arus banjir yang mulai menghantam sejak pagi hari kemarin. Di Bolsel ratusan rumah penduduk juga terendam banjir. Bahkan dua pejabat Pemkab yang meninjau lokasi banjir nyaris terseret arus banjir.

Kondisi warga korban banjir memprihatinkan. Mereka terpaksa mengungsi ke gedung atau bangunan yang dianggap aman. Tak ada pilihan bagi Paulin Repi (76), selain mengungsi sementara di Pos Kamling di tepi Jalan AKD (Amurang Kotamobagu Doloduo) di Desa Mogoyunggung Satu. Rumah Oma yang hidup sebatang kara ini merupakan satu di antara ratusan rumah yang terendam banjir. "Ya, bagaimana lagi. Saya terpaksa tinggal di Pos Kamling ini sambil menunggu air surut," ujar perempuan sepuh ini sambil merapatkan jas tebal yang membungkus tubuhnya.

Paulin bukan satu-satunya Oma yang mengungsi ke Pos Kamling. Netty Rantung yang usianya hanya terpaut satu tahun lebih muda dari Paulin pun tampak menghangatkan diri dengan warga lainya di pos tersebut. "Rumah kami berhadap-hadapan. Kami tinggal sendiri," kata dia.

Ada tiga kepala keluarga lainya juga yang mengungsi di pos itu. Termasuk keluarga Alo Suoth. Selain kompor gas, tak ada barang lain terlihat di pos tersebut. Sejumlah anak-anak tampak bermain-main di dalamnya. Terlihat juga beberapa ekor anjing meringkuk di bawah tempat duduk yang tersedia.

Di tempat lain, tampak Oma Tenny, membawa selimbut dari rumahnya menuju tetangganya. Dia berjalan melintasi genangan air yang masih setinggi semata kaki hingga betisnya. Namun, dia masih tampak melemparkan senyum saat Tribun Manado menyapa perempuan berambut pendek ini.

Hingga Selasa sore, warga tersebut belum mendapatkan bantuan apa pun dari dari Pemkab Bolmong. Menurut Camat Dumoga Timur Yohanis Lomban, Pemkab Bolmong melalui BPBD Bolmong berjanji akan menyalurkan bantuan pada Rabu ini.

Informasi dari BPBD Bolmong, banjir menghantam Desa Mengkang setelah sungai Mengkang tak mampu lagi menampung air akibat hujan yang terus menerus mengguyur daerah itu sejak Senin sore. Luapan air meluber ke perkampungan. Ketinggian air pun mencapai setengah hingga satu meter.

Arus sungai pun sangat deras. Alhasil, tiga rumah yang berada di bantaran sungai terbawa arus yang sangat kuat tersebut. Mesita Gonibala, warga Desa Mengkang, mengatakan, penduduk di desa itu masih waspada menghadapi kemungkinan terburuk yang terjadi. Apalagi, potensi hujan masih tinggi. "Sejumlah warga yang tinggal di bantaran sungai terpaksa harus mengungsi ke tempat yang lebih tinggi," kata Mesita.

Selain Desa Mengkang, Desa Tanoyan Utara juga dihantam banjir di Kecamatan Lolayan. Namun, Dumoga menjadi daerah yang paling luas terkena banjir. Tujuh desa serta satu kelurahan, yakni Desa Tonom, Ibolian, Ibolian Satu, Mogoyunggung Satu sampai Tiga, Desa Werdi Agung Utara serta Kelurahan Imandi terendam air.

Mogoyunggung Satu menjadi satu desa yang terparah. Alo Suoth, warga di Desa Mogoyunggung, mengatakan, ketinggian air sempat mencapai dadanya atau sekitar satu meter lebih. Dia bersama lima anggota keluarganya yang lain pun terpaksa harus meniinggalkan rumah.

"Tak banyak yang bisa kami bawa. Baju semuanya basah. Air cepat naik, hingga kami tak sempat bersiap diri," kata Alo saat ditemui sedang bersama warga lainya di Pos Kamling.

Dia mengatakan, hujan hampir tanpa henti mengguyur Mogoyunggung sejak Senin sore. Hujan kian deras pada Selasa pagi. Tak sampai beberapa jam, air mulai naik. Alo mengaku tak menyangka air akan naik secepat itu. "Hari masih gelap, saya pun baru saja terbangun saat melihat air sudah meninggi," katanya.

Camat Dumoga Timur mengaku belum menegatahui pasti berapa banyak rumah yang terendam banjir. "Yang pasti ratusan rumah yang terendam banjir," kata Yohanis. Dia menambahkan, ratusan kepala keluarga mengungsi akibat bencana ini. Hingga Selasa sore, warga tersebut belum mendapatkan bantuan apa pun dari dari Pemkab Bolmong. Menurut Yohanis, BPBD Bolmong berjanji akan menyalurkan bantuan pada Rabu ini.

Kendati air msudah mulai surur, Yohanis mengatatakan, warganya saat ini sangat membutuhkan makanan siap saji dan juga air bersih. Warga tidak bisa memasak dengan kondisi rumah yang porak-poranda akibat banjir. "Jadi mereka memerlukan makanan siap saji dan air bersih," katanya.

Kepala BPBD Bolmong Dadang Nugroho, mengatakan pihaknya masih akan melakukan pendataan berapa banyak rumah yang terendam banjir. "Untuk kerugian belum dapat ditaksir. Kita masih sementara melakukan pendataan. Selain merendam rumah, banjir juga merendam ratusan hektar sawah," kata Dadang.

Banjir juga menghantam Desa Mataindo, Tobayagan, Torosik, Nunuk, dan sebagian Linawan di Bolsel, kemarin. Menurut Kabag Humas Pemkab Bolsel, Ahmadi Modeong, Kadis Sosial Haripin Matulu dan Kaban Bencana Alam Yamin Ismail nyaris terseret arus banjir di Desa Tobayagan. Ketinggian air mencapai di desa itu dan desa-desa lain mencapai 2 meter "Bupati Herson Mayulu didampingi Asisten I Indra Damopolii juga sudah turun lapangan meninjau langsung kondisi masyarakat yang terkena banjir," katanya.

Penyempitan sungai
Mogoyunggung, yang kini telah menjadi tiga desa, menjadi langganan banjir setiap tahun sejak pertengahan dekade 1990-an. Menurut Sangadi atau Kepala Desa Mogoyunggung Satu, Tenny Mamangkey, satu di antara penyebabnya adalah menyempitnya sungai Ibamba.

Sungai Ibamba yang mengalir di antara desa Mogoyunggung dan Kelurahan Imandi kini hanya selebar satu hingga tiga meter saja. Padahal, kata Tenny, sungai tersebut awalnya selebar sekitar enam meter dengan kedalam beberapa meter. Sehingga bila hujan besar di hulu, sungai masih bisa menampung air.

"Sekarang, air terus meluap. Dan, itu terjadi hampir setiap tahun," ujar Tenny kepada Tribun Manado, Selasa kemarin. Dia mengatakan, warga di Desa Mogoyunggung telah beberapa kali mengusulkan untuk normalisasi Sungai Ibamba. Namun hingga kini, belum ada tindaklanjut dari usulan warga tersebut. Padahal, meluapnya air sungai yang mengalir ke Sungai Ongkag itu bisa diminimalisir dengan pelebaran kemlbali Sungai Ibamba.

Alo Suoth, warga Desa Mogoyunggung Satu mengatakan, sudah beberapa kali banjir bandang terjadi. "Yang paling parah itu, kalau tak salah tahun 1995 dan 1997, air bahkan sampai melampaui kepala orang dewasa. Sebelum tahun-tahun itu, tidak ada banjir," kata Alo yang juga harus mengungsi akibat banjir.

Puluhan Rumah di Dumoga Terendam Banjir

Sedangkan puluhan rumah di Kelurahan Imandi dan Desa Mogoyunggung Satu, Kecamatan Dumoga Timur, terendam banjir, Selasa (12/8/2014). Dari dua daerah itu, Desa Mogoyunggung Satu paling parah terkena luapan air dari sungai itu. Ketinggian air bahkan sempat mencapai satu meter lebih.

"Air sampai mencapai dada saya," ujar Alo Suoth, warga Mogoyunggung Satu.

Tak hanya di daerah Dumoga, banjir juga landa Kecamatan Lolayan. Desa Mengkang dan Desa Tanoyan merupakan daerah yang terkena banjir di kecamatan itu. Keadaan tersebut terjadi satu di antaranya karena hujan yang mengguyur wilayah Bolmong tanpa henti sejak Senin sore kemarin.(Tn/Gs).