Banjarmasin (20/9) – Sebagai Koordinator Gerakan Indonesia Bersatu (GIB), Kemendagri menyadari masih banyak Pekerjaan Rumah (PR) yang harus dibenahi dalam permasalahan persatuan bangsa, toleransi, dan perbedaan pendapat demokrasi. Atas dasar itu, semua elemen bangsa tidak boleh berpangku tangan.
Dalam pembukaan Rembuk Nasional Gerakan Indonesia Bersatu Direktur Jendral Politik dan Pemerintahan Umum Kemendagri, Soedarmo mengatakan, Kemendagri telah berupaya mewujudkan Indonesia bersatu, dimulai pembentukan pelaksanaan dan pelaporan gugus tugas GNRM di setiap provinsi dan kabupaten kota yang melibatkan satuan tugas perangkat daerah, kelompok dunia usaha, kelompalok masyarakat, organisasi profesi, dan akademisi. “Melalaui satuan gugus tugas kita patut berbangga, contoh pemilihan umum kemarian adalah keberhasilan berasama. Di mana angka partisipasi pemilih mencapai 81 persen di atas target nasional 77 persen,” ujarnya.
Walau begitu, menurutnya seluruh elemen bangsa tidak bisa berpangku tangan atau lengah, sebab tidak bisa dipungkiri masih banyak PR yang dibenahi dalam permasalajan persatuan bangsa, toleransi, dan perbedaan pendapat demokrasi. "Adanya kejadian di Surabaya, Malang dan menimbulkan kerusuhan di Provinsi Papua dan Papua Barat adalah contoh PR yang harus diselesaikan agar tidak terulang kembali. Rembuk nasional hari ini harus menjadi momen kita bersatu membangun persatuan dan kehidupan demokrasi pancasila, pemerintah bekerja keras mewujudkan Indonesia bersatu," cetusnya.
Diingatkannya, keanekaragaman Indonesia karena Allah SWT dan keanekaragaman adalah keniscayaan, maka bagaimana menyatukan berbagai kondisi di Indonesia itulah pancasila sebagai dasar negara. "Mari ingat kembali nilai yang terkandung dalam pancasila. Mari kita ingat kembali bagaimana para pendiri bangsa kita menyatukan berbagai elemen bangsa. Jangan dipersoalkan lagi soal suku, agama, ras dan antar golongan apalagi menyangkut soal agama, agama urusan kita dengan Tuhan Yang Maha Esa," tegasnya.
Soedarmo mencontohkan bagaimana Kerajaan Sriwijaya akhirnya hancur. Mengapa itu terjadi menurut Soedarmo, karena ada konflik internal, tidak adanya harmonisasi di kerajaan itu sendiri, dan adanya perbedaan yang jadi konflik. Begitu juga dengan kebesaran Kerajaan Majapahit yang muncul pada abad 14 kemudian juga hancur karena konflik internal dan disharmonisasi di kerjaan itu sendiri.
Rembuk Nasional Gerakan Indonesia Bersatu diikuti seluruh perwakilan daerah di Indonesia tersebut menghadirkan narasumber KH Abdul Haris Anwar Nawari selaku Ketua Forum Komunikasi Pondok Pesantren Kabupaten Kuningan, Cristiono Riyadi selaku Pendiri Sekolah Kebinekaan, dan Prof. Haryono selaku Plt Kepala BPIP.
Kategori:
