Error message

Deprecated function: The each() function is deprecated. This message will be suppressed on further calls in menu_set_active_trail() (line 2394 of /var/www/arsip.kemenkopmk.go.id/includes/menu.inc).
Oleh humaspmk on October 04, 2014

Jakarta, 4 Oktober  - Warga di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan melaksanakan salat Idul Adha di tengah kabut asap yang menyelimuti lapangan terbuka yang dijadikan lokasi ibadah.

Ratusan jemaah pada lokasi itu mengikuti salat di tengah kabut asap cukup tebal yang muncul dan menyelimuti seluruh Banjarbaru sejak pukul 06.00 WITA.

Kondisi tersebut membuat sebagian jamaah terutama anak-anak yang didampingi orang tua, mengenakan masker penutup hidung dan mulut sehingga tidak terhirup kabut asap.

"Kabutnya cukup pekat sehingga kami mengenakan masker supaya tidak terhirup langsung kabut asap," ucap Nurdin, satu jamaah bersama anaknya yang memakai masker.

Jamaah lainnya mengeluhkan bau hangus seperti benda terbakar yang mengiringi kabut asap disamping efek kabut yang menyebabkan mata menjadi pedih dan berair.

"Bau hangus cukup menyengat dan mata juga terasa pedih dan berair karena cukup lama terkena langsung kabut asap," ujar Dani dan Upik, jamaah lainnya.

Meski pun mengikuti salat di tengah "kepungan" kabut asap tetapi seluruh jamaah dengan tekun dan tertib mengikuti rangkaian ibadah sunat sejak awal hingga akhir.

Sementara itu, kabut asap yang menyelimuti Kota Banjarbaru juga berdampak pada terbatasnya jarak pandang antara 50--200 meter.

Kemunculan kabut asap cukup pekat akibat kebakaran lahan sudah berlangsung sejak tiga hari terakhir sehingga cukup mengganggu aktivitas terutama di luar rumah.

Jamaah haji bergerak dari Arafah ke Muzdalifah

Sementara itu dikabarkan Laman Antaranews.com., bahwa Jamaah haji Indonesia telah memenuhi Padang Arafah, Arab Saudi, Jumat (3/10/2014) pagi, untuk melaksanakan wukuf setelah sholat Zuhur hingga matahari tenggelam.

Jamaah haji dari seluruh dunia termasuk, sekitar 186.000 jamaah haji Indonesia, sejak Jumat petang (malam WIB) mulai bergerak dari Padang Arafah ke Muzdalifah untuk mabit (bermalam) dan mengambil batu untuk melempar jumroh di Mina.

Sebelumnya jutaan jamaah haji melaksanakan puncak haji atau wukuf di Padang Arafah sejak Jumat siang. Pada Jumat petang, bus-bus bergerak beriringan mengangkut jamaah haji dari seluruh dunia.

Jamaah haji Indonesia umumnya melaksanakan sholat Magrib dan Isya secara jama qhasar atau digabung dan dipendekan terlebih dahulu, sebelum berangkat ke Muzdalifah.

Sementara itu jamaah lainnya ada yang melakukan menggambungkan sholat Magrib dan Isya di Muzdalifah.

Di sini, jamaah antara lain akan mengambil batu untuk melempar jumrah di Mina. Jamaah baru bisa meninggalkan Muzdalifah setelah tengah malam. Umumnya jamaah Indonesia langsung bergerak dari Muzdalifah setelah tengah malam agar bisa melempar jumrah di Mina lebih awal dan tidak terlalu padat.

Sementara jamaah lainnya banyak yang meninggalkan Muzdalifah setelah sholat subuh dan setibanya di Mina langsung melempar jumrah.

Banyak jamaah kena "heat stroke" di akhir wukuf

Dalam proses pelaksanaan ibadah haji tahun ini banyak jamaah haji terkena "heat stroke" bahkan empat meninggal karena kepanasan dan kurang minum sehingga pos kesehatan di Arafah kebanjiran jamaah yang sakit di akhir wukuf, Jumat (3/10/2014) sore.

"Cuaca panas 43 derajat celcius. Lima jam setelah wukuf ada 67 jamaah yang masuk ke pos kesehatan. Semua kekurangan cairan," kata Komisioner Komisi Pengawas Haji Indonesia, Abidinsyah Siregar, di Arafah, Arab Saudi, Jumat malam, saat menyampaikan evaluasi sementara pelaksanaan wukuf. Abidin didampingi Ketua KPHI, Slamet Effendy Yusuf, mengatakan heat stroke karena kekurangan cairan.

Cara untuk mengatasinya adalah dengan menambah cairan atau minum.

Ia mengatakan heat stroke itu dapat memicu atau memperburuk kondisi jamaah haji yang mempunyai resiko tinggi. "Yang tumbang yang resikoi tinggi yang mempunyai simpanan penyakit dan di atas 50," kata Abidin yang seorang dokter. "Yang sehat saja bisa terpengaruh, apalagi yang beresiko tinggi," kata Abidin lagi.

Sehubungan dengan itu Slamet Effendy Yusuf meminta adanya operasi khusus pembagian air kepada jamaah menjelang keberangkatan ke Muzdalifah atau minimal saat berada di Mina. Setelah wukuf di Arafah, jamaah haji bergerak ke Muzdalifah dan besok pagi atau dini hari ke Mina.

"Kami harapakan operasi khusus pembagian air. Minimal dua botol," kata Slamet Effendy.

Ia meminta agar pemerintah tidak mudah percaya kepada swasta Arab Saudi yang menangani penyelenggaraan haji bagi jamaah Indonesia, dalam masalah pembagian air.

"Kami harapkan pemerintah 'alert' dan waspada. Kami akan ikut pengawasan operasi air," katanya.

Saat ini tim kesehatan terus bekerja menangani para jamaah tersebut, bahkan sampai besok hari agar jamaah cukup kuat untuk tindakan selanjutnya.

Bahkan Abidin juga ikut menangani para pasien dan ikut tidak berhaji seperti 57 dokter yang juga tidak berhaji karena sejak awal sudah berkomitmen.

Slamet Effendy meminta pemerintah mengantisipasi agar kejadian tidak terjadi terutama di Muzdalifah dan Mina. Sebelumnya saat Menag memantau beberapa tenda jamaah haji, paling tidak ada dua kloter yang mengeluhkan kurangnya pasokan air.(Ant/Gs)