Selaru,(13/05)--Meski Indonesia telah merdeka lebih dari 70 tahun, namun masyarakat Selaru belum sepenuhnya menikmati kemerdekaan. Ini dirasakan warga karena sulitnya akses yang mereka miliki sebagai daerah terluar.
Hal ini diungkapkan Kepala Desa Adaut Kecamatan Selaru, kabupaten Maluku Tenggara Barat (MTB), Ika Batlayar, saat dialog dalam acara sosialisasi Gerakan Revolusi Mental yang digelar Tim Ekspedisi Bhakti PMK di balai desa Adaut, Kamis siang (12/05).
"Kami warga Selaru masih sulit untuk berkunjung ke ibukota negeri ini. Justru lebih mudah kita pergi ke Australia," ujar Batlayar.
Warga Selaru, khususnya desa Adaut, tambahnya, menyambut baik kehadiran Tim Bhakti PMK yang membawa berbagai bantuan dan kegiatan bagi masyarakat. Namun yang perlu menjadi perhatian, bahwa keberadaan bantuan bisa saja menimbulkan kecemburuan antarwarga jika tidak tepat sasaran.
"Kalau bantuannya ke anak-anak sekolah tidak apa-apa. Tapi saya lihat ada juga yang untuk orang dewasa," ungkapnya.
Lebih lanjut, Batlayar menyatakan, beberapa bantuan yang sebenarnya sangat dibutuhkan masyarakat Selaru yakni masalah air bersih, ketersediaan listrik dan pembangunan infrastruktur jalan. Selain itu, warga juga sangat membutuhkan lampu penerangan agar mobilitas warga lebih leluasa saat malam hari.
"Warga sangat ingin dapat listik di siang hari. Kita baru dapat listrik sore hingga jam 6 pagi," tuturnya.
Selain itu, masyarakat Adaut sangat membutukan pembangunan jalan yang merupakan infrastruktur penting untuk pergerakan manusia dan barang. Kondisi jalan yang ada belum sepenuhnya mendukung sehingga diperlukan peningkatan infrastruktur.
"Kami ingin infrastruktur jalan dibangun agar bisa meningkatkan pendapatan perkapita masyarakat," harapnya.
Sektor pertanian dan perikanan merupakan mata pencaharian utama masyarakat Adaut. Akan tetapi hingga kini namun belum digarap secara optimal, sehingga belum mampu memberikan kontribusi bagi kesejahteraan masyarakat.
Kategori:
