Jakarta, 26 Agustus - Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan, Senin (25/8/2014), mengirim peralatan perlindungan bagi petugas kesehatan ke Republik Demokratik Kongo, yang memastikan dua paparan Ebola di wilayah terpencil.
"Kementerian kesehatan menyatakan wabah Ebola dan kami memperlakukannya sesuai dengan itu," kata jurubicara WHO Tarik Jasarevic di Jenewa.
1.427 orang tewas
Seperti dilansir laman Antaranews.com, wabah Ebola yang telah menewaskan 1.427 orang terfokus di Liberia, Guinea, dan Sierra Leone dengan beberapa kasus juga terjadi di Nigeria.
DR Kongo menyatakan terjadinya wabah Ebola di provinsi Equateur di utara pada Minggu setelah dua dari delapan pasien yang dites ternyata positif, kata Menteri Kesehatan Felix Kabange Numbi.
Pihak berwenang Kongo yang menyambangi wilayah terpencil itu menemukan 24 kasus demam hemoragik yang tidak diketahui asalnya, termasuk 13 orang yang telah meninggal, kata Jasaveric.
Dari pasien-pasien itu, dua dinyatakan positif Ebola, namun contoh-contoh lain yang diambil dari pasien terduga masih dianalisa, katanya.
Selain itu, penyakit gastroenteritis hemoragik, malaria, dan infeksi bakteri shigella juga ditemukan di kawasan itu, tambah dia.
Setidaknya 70 warga meninggal di wilayah utara DR Kongo akibat wabah hemoragik gastroenteritis, kata WHO pada Kamis (21/8/2014), untuk membantah laporan bahwa semua kasus itu merupakan infeksi Ebola.
Virus Ebola yang ditemukan di Zaire pada 1976 merupakan penyakit endemis di wilayah tersebut. Ini merupakan wabah ketujuh di negara tersebut untuk penyakit mematikan itu, kata WHO.
Tembakau Bisa Tangkal Virus Ebola
Sementara itu, Guru Besar Bio Cell Universitas Brawijaya Malang Sutiman mengungkapkan tembakau yang tumbuh di sejumlah wilayah di Tanah Air bisa untuk menangkal virus ebola yang saat ini sedang hangat diperbincangkan karena belum ada obatnya.
"Virus ebola itu memang mirip penyakit HIV/AIDS yang masih belum ditemukan obatnya. Namun, untuk mencegah virus tersebut tidak sampai meluas, sebenarnya cukup mudah, yakni dengan tembakau yang diolah menjadi vaksin," kata Prof. Sutiman di Malang, Senin (25/8/2014).
Menurut dia, virus ebola menular lewat kontak badan atau ludah dan bisa merusak sistem peredaran darah hingga pembuluh darah pecah.
Gejala serangan virus ebola pada seseorang, kata dia, di antaranya ditandai dengan badan terasa panas selama dua hari hingga tiga pekan, tenggorokan sakit, otot linu-linu, kepala pening, muntah-muntah, dan diare.
Serangan virus ebola tersebut, kata pendiri Rumah Sehat dengan terapi rokok itu, bisa mengakibatkan fungsi hati dan ginjal menurun dan darah keluar dari kulit.
Berdasarkan catatan WHO dari 1.716 kasus yang terkena virus ebola, 1.350 penderita di antaranya meninggal.
Warga meninggal akibat virus ebola tersebut banyak terjadi di Afrika Barat, Brinee, Gunea Sierre Leone, Liberia, Negeria, dan sejumlah negara di Benua Afrika.
"Kalau melihat kondisi itu, kan sangat mengerikan, apalagi obatnya belum ada dan belum ditemukan," ujarnya.
Lebih lanjut Prof. Sutiman mengatakan bahwa tembakau memiliki banyak manfaat untuk kesehatan.
Hal itu sudah diketahui sejak pertama kali ditemukan di Amerika Serikat.
Orang-orang Eropa membawa tembakau Amerika itu ke Eropa untuk dibuat obat sejak 1500 M hingga sekarang.
Menurut dia, selain dipakai untuk mengobati beberapa jenis penyakit, tembakau juga bisa dibuat vaksin untuk mencegah virus ebola.
Khusus virus ebola di dalam tanaman tembakau tersebut ada tobacco muzaic virus dan itu bisa disisipi gen antibodi untuk antiebola.
Jadi, kata dia, tanaman tembakau tersebut bisa memproduksi vaksin antiebola.
"Oleh karena itu, kalau kami dari Universitas Brawijaya Malang ini dipercaya dan ditunjuk membuat vaksin tersebut, sangat siap," tegasnya.
Hanya saja, kata Sutiman, untuk mengembangkan vaksin tersebut di pasaran sangat sulit karena persoalannya sangat kompleks meski dirinya yakin jika di balik kehebohan virus ebola itu akan muncul vaksin baru, seperti vaksin meningitis yang sebelumnya juga ramai menjadi perbincangan ketika menjelang musim haji beberapa tahun lalu.
Menurut dia, Indonesia selalu menjadi pasar potensial untuk vaksin virus ebola itu.
"Bayangkan, berapa juta orang yang harus divaksin, nah, itu kan bisnis, padahal untuk membuat vaksinnya sangat mudah dan bahan bakunya dari tembakau yang tumbuh subur di Indonesia," katanya.
Oleh karena itu, dia meminta semua pihak, terutama pemerintah, tidak mudah termakan kampanye global yang bisa memusnahkan kekayaan hayati tembakau di Indonesia karena Indonesia memiliki varietas tembakau yang jenisnya banyak dan tidak dimiliki di belahan dunia lain.
Ada jenis tembakau Indonesia yang tidak bisa hidup di daerah lain, seperti tembakau madura, jember, dan tembakau temanggung. Berdasarkan kondisi tersebut, wajar bila Belanda sangat senang saat menjajah Indonesia sebab tembakau yang aslinya berasal dari Amerika Serikat, lalu dibawa ke Eropa itu sudah bisa dijadikan obat sejak tahun 1500 M.
"Kondisi jangka panjang dan dampak luasnya ini yang mestinya dipelajari agar tidak sampai merugikan negara, seperti yang sudah kita alami pada minyak kelapa," katanya.
Ia menegaskan, "Jadi, kampanye terkait dengan tembakau ini jangan ngawur, apalagi sampai memusnahkannya karena mematuhi ketentuan tar dan nikotin dunia yang sebenarnya hanya dilatarbelakangi persaingan bisnis semata."(Ant/Gs).